
Dakwah dimulai dari lahirnya sekelompok orang yang sedar dan insaf serta yakin akan tugas mereka, disamping iman yang tebal kepada Allah SWT. Dakwah Rasulullah SAW dibantu oleh para sahabat yang memiliki jiwa pengorbanan yang tinggi berjuang di jalan Allah. Di dalam makna ini, Imam Al-Banna menjelaskan :
“Pembentukan suatu ummah, pendidikan suatu bangsa, pencapaian cita-cita, dan pendukungan prinsip memerlukan kekuatan jiwa yang besar dari ummah atau bangsa yang ingin mencapai cita-citanya itu. Kekuatan jiwa yang terjelma dalam kemahuan yang kuat dan tidak mengenal lemah, kesetiaan yang padu, tidak mudah terpengaruh, dan tidak kenal uzur, memiliki pengorbanan yang tinggi, mengenal serta mengimani dan memandang tinggi terhadap prinsip perjuangan sehingga seseorang dapat memelihara diri dari penyelewengan atau terpedaya oleh prinsip-prinsip lain”.
Inilah dia sifat pribadi mereka yang mampu mendukung dakwah ini. Inilah dia titik awal kerja dalam dakwah, yaitu melalui proses pembinaan peribadi pendakwah yang jitu. Sebagaimana permulaan dakwah Rasulullah SAW dengan membina peribadi para da'ei seperti yang tergambar dalam surat Al-Muzzamil di mana Allah memerintahkan mereka dengan latihan ibadah Qiyamullail (shalat Tahajjud) sebagai persiapan menghadapi ujian dakwah yang penuh dengan berbagai ujian di hari-hari depannya.
Dimanakah sumber kekuatan dakwah? Sebenarnya, kekuatan bermula dari kekuatan iman, kemudian diikuti oleh kekuatan ukhuwwah Islamiyah, kemudian barulah diikuti dengan kekuatan material dan organisasi.
Kebanyakan orang menyangka bahawa timur kekurangan kekuatan material, peralatan perang, dan perjuangan untuk mereka bangun menyaingi ummat yang telah merampas hak dan menindas mereka. Anggapan ini ada benarnya, namun di sana ada lagi sesuatu yang lebih penting yaitu kekuatan ruh yang terjelma dalam akhlak yang tinggi, jiwa yang harmoni, mengetahui dan meyakini kebenaran, dan pengorbanan demi menunaikan kewajipan.
Kekuatan iman dan ukhuwwah itu kemudiannya berganjak kepada kekuatan ilmu, syakhsiah, tubuh badan, dan kesatuan. Inilah yang menjadi kekuatan tonggak dan asasi. Setelah ini barulah diikuti dengan kekuatan organisasi, media, ekonomi, dan ketenteraan. Adalah anggapan yang keliru bahwa dakwah harus dimulai dengan kekuatan material (kebendaan) karena asas kekuatan awal adalah pribadi du'at itu sendiri, kemudian barulah diikuti dengan kekuatan yang lain. Hakikat ini telah terbukti di dalam sejarah dakwah itu sendiri.
[ Baca Seterusnya ]